[REVIEW NOVEL] Funiculi Funicula -Before The Cofee Gets Cold-
Review Novel
Funiculi Funicula
Before The Cofee Gets Cold
-Toshikazu Kawaguchi-
I. Identitas buku
Judul : Funiculi Funicula
Penulis : Toshikazu Kawaguchi
Tahun terbit : 2015
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman : 223 hal.
Harga : Rp70.000,-
II. Ringkasan Novel
Novel ini menceritakan tentang sebuah kafe tua di Tokyo yang katanya sih bisa membawa pengunjungnya kembali ke masa lalu atau datang ke masa depan. Namun, ada banyak syarat tak masuk akal yang harus dilakukan sebelum mereka dapat menjelajahi waktu. Pertama, mereka harus duduk di kursi yang telah ditentukan dan tidak boleh beranjak dari kursi tersebut selama menjelajahi waktu. Yang kedua, mereka harus meminum kopi yang disajikan secara khusus dan kopi itu harus dihabiskan sebelum dingin. Jika sudah dingin, mereka tidak akan bisa kembali ke masa kini. Dan peraturan yang terakhir, mereka harus ingat, walaupun dapat kembali ke masa lalu, mereka tidak dapat mengubah kenyataan di masa sekarang. Jadi, apa gunanya dong?
Peraturan peraturan nyeleneh tersebut tidak menghentikan Fumiko Kiyokawa, Kotake, Hirai, dan Kei untuk menjelajahi waktu. Mereka berempat membawa kisah yang berbeda, mulai dari kisah percintaan Fumiko, kisah menyentuh mengenai ketulusan hati Kotake kepada Fusagi suaminya, kisah penyesalan Hirai, dan yang terakhir, yang tak kalah menyentuh, kisah antara ikatan ibu dan anak.
Well, takdir tetaplah takdir. Walapun mereka sekuat tenaga kembali ke masa lalu atau datang ke masa depan, keadaan di masa sekarang tidak akan berubah. Yah, setidaknya mereka dapat menyampaikan perasaan yang telah terpendam kepada orang yang mereka cintai.
III. Tanggapan
(Spoiler Alert!)
Menarik. Empat kisah yang disajikan dalam novel ini cukup ringan dan cocok untuk dibaca saat waktu senjang. Ada satu kisah yang menurut Saya sangat menyentuh, yaitu kisah sepasang suami istri, Kotake dan Fusagi. Sang suami, Fusagi, merupakan penderita alzheimer, sedangkan Kotake sang istri merupakan seorang perawat. Walaupun di masa kini Fusagi tidak mengenali Kotake, Ia tetap setia mengunjungi kafe untuk kembali ke masa lalu, sehingga ia bisa memberikan surat kepada istrinya. Isi dari surat tersebut tak lain dan tak bukan adalah mengenai kondisinya yang kian memburuk. Fusagi berharap Kotake dapat memahaminya jika suatu saat nanti, ia tak mengenali istrinya sendiri.
Sejujurnya, ada satu kisah yang menurut saya membosankan, yaitu kisah percintaan Fumiko. Bagi saya Fumiko terlalu keras kepala, egois, dan punya harga diri yang terlalu tinggi. Jadi susah memang untuk sekedar mengucapkan, Tolong jangan pergi, Aku mencintai mu. Pada akhirnya, walaupun ia telah kembali ke masa lalu, kata kata yang ingin ia ucapkan, malah tidak tersampaikan.
Saat dipertengahan cerita, Saya sempat berfikir, dan membuat teori sendiri. Jangan jangan kafe ini tidak benar benar membawa orang menjelajahi waktu. Ingat kan salah satu peraturan yang mengharuskan para penjelajah waktu minum kopi yang disajikan secara "khusus" dan harus dihabiskan sebelum kopi itu dingin? Akan menjadi masuk akal apabila sebenarnya kopi "khusus" itu diberi "ramuan" (if u know what i mean) sehingga menyebabkan orang yang meminumnya berhalusinasi, membuat mereka seolah olah dapat menjelajahi waktu. Agak liar memang, tapi masuk akal bukan? Teori ini juga diperkuat dengan peraturan yang terakhir. Apapun yang mereka lakukan saat menjelajahi waktu, baik saat kembali ke masa lalu atau datang ke masa depan, keadaan di masa kini tidak akan berubah. Tentu tidak akan berubah apabila itu hanya halusinasi mereka belaka. Menarik bukan?
Yah, mengingat ini adalah novel fiksi, apapun bisa terjadi. Jadi, mari kesampingkan teori liar ini.
Sebenarnya saya cukup kecewa. Saya berekspektasi bahwa penulis akan menceritakan pula kisah hantu bergaun putih yang terjebak karena melanggar peraturan kafe tersebut. Tetapi sampai akhir, tidak dijelaskan sama sekali bagaimana ia bisa berakhir menjadi hantu.
Kelebihan
Banyak amanat yang dapat diambil dari novel ini. Novel ini mengajarkan kita bahwa waktu dapat menjadi pisau bermata dua. Ia dapat menjadi sebuah penyesalan atau penyembuh luka. Satu yang pasti, waktu sangat berharga. Selain itu, penulis pandai merangkai alur cerita sehingga pembaca dapat merasakan sendiri bagaimana rasa duka, sedih, senang, hingga marah yang dialami oleh setiap tokoh.
Secara garis besar, novel ini cukup berkesan bagi Saya. Cocok sekali dibaca saat waktu senggang!
Kekurangan
Dikarenakan novel ini berlatar tempat di jepang, ada beberapa kata yang asing bagi saya sehingga agak sulit untuk membayangkan bagaimana sebenarnya interior dan suasana dari kafe ini. Selain itu, masih banyak pertanyaan dibenak Saya yang salah satunya berkaitan dengan hantu bergaun putih hingga alasan mengapa Nagare dan Kazu tiba tiba pindah ke Hokaido. Jadi, bagi saya novel ini belum sepenuhnya selesai.
Alur dari novel ini agak membingungkan awalnya, tetapi selanjutnya, sangat mudah ditebak. Tidak ada plot twist yang wow dari novel ini. Dibilang flat bisa, tapi membosankan juga tidak.
Nah untuk mengakhiri Review, seperti biasa, akan Saya suguhkan kutipan favorite saya dari novel ini.
-Kekuatan hati cukup bagi seseorang untuk melewati kenyataan yang dihadapinya, sepahit apapun kenyataan itu-
Funiculi Funicula, Halaman 223
Terima kasih telah membaca!!💖
~Sampai jumpa~

Komentar
Posting Komentar